Minggu, 08 April 2018

Sebuah Puisi

IBU MUSLIMAH

Oleh : Irene Radjiman

Aku ibu muslimah.
Aku harus patuh pada syari'at Islam. Karena kecantikanku tercipta dari DIA sang pemilik jagad, sang pembuat syari'at.
Aku tahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah.
Gerai tekukan rambutnya sangatlah cantik.
Rasa ciptanya bagaikan kristal mutiara yang menyatu dengan kodrat alam.
Begitu cantiknya hingga Rabbku menyebutnya aurat dan tak rela mata-mata durjana liar memandangi kecantikannya.
Kecantikan itu harus tetap suci terbungkus kain hijab.
Lihatlah ibu muslimah.
Saat penglihatanmu semakin asing.
Supaya kau dapat melihat kecantikan asli dari imanmu.
Jika kau ingin menjadi cantik, memiliki jiwa yang sehat, beradab dan bermartabat.
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu muslimah.
Aku ibu muslimah.
Aku harus patuh pada syari'at Islam.
Karena kecantikanku tercipta dari DIA sang pemilik jagad, sang pembuat syari'at.
Aku tahu suara kidung ibu Indonesia sangatlah elok.
Namun seluruh suara merdu dimuka bumi ini harus meluruh syahdu saat Rabbku turun dari atas arsyNYA, membuka penutup langit dengan kumandang adzan.
Seluruh manusia beriman wajib datang dan sujud dengan ke-TAAT-an.
Suara kumandang adzan itu sangatlah merdu, bila didengar oleh mereka yang senantiasa menjaga hati dan melafadzkan istighfar.
Rabbku tidak perlu meminta maaf, bila suara adzan itu terdengar buruk bagi hati yang buruk karena belum terpuaskan nafsu yang lapar.
Gemulai gerak tari bukanlah ibadah. Karena ibadah adalah saat hati merendah dan tubuh sujud menyembah, dimana nafas doa berpadu cipta melalui helai demi helai benang tenun sajadah dan tangan yang menengadah. Bukan dengan keangkuhan hati yang pongah.
Pandanglah ibu muslimah.
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari imanmu.
Sudah sejak dahulu kala, sejak tercipta manusia pertama, riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan patuh pada perintah Rabbnya.

Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=ThJfFbVm--A

Sejarah Ulama

EDISI MAMATAHAN NGOJAY KA MERI
================
������������
Harapunten ka para guru oge kasepuhan,
Ieu mah kanggo anu teuacan terang wr
K. H. M. Hasyim Asy’ari Tahun Riwayat hidup K. H. M. Hasyim Asy’ari 14 februari 1871 Beliau lahir di desa Gedang, Jombang. Ayahnya bernama Asy’ari dari demak dan ibunya bernama Halimah. 1893 Beliau ke Mekkah yang kedua kalinya untuk belajar setelah sebelumnya di sana selama tujuh bulan. 26 robiul awal 1317 H/1899 M

Mendirikan pondok pesantren Tebu Ireng

1925 Menyetujui pengiriman utusan komite Hijaz 1942 - Ditahan oleh jepang karena menentang saikere (menghormat kaisar jepang dengan membungkuk 90 derajat setiap jam 07.00 dan baris di lapangan) dan ditahan selama 4 bulan. - Diangkat menjadi ketua Shumubu (kantor urusan agama) cikal bakal kementrian agama 1943-1945 Beliau menjadi ketua pemimpin pusat Masyumi 1944 Beliau menjadi penasehat utama jawa hokokai bersama Ir. Sukarno 21 juli 1947 Beliau wafat ketika benteng pertahanan Hizbullah-sabilillah di singosari, malang direbut oleh Belanda Pendidikan- Sejak kecil belajar dengan orang tuanya di pondok gedang - 13 tahun sudah bisa mengajar membantu orang tuanya - 14 tahun mulai berkelana mondok di pondok-pondok pesantren - 1893 sekitar berumur 22 tahun berangkat ke mekkah untuk mencari ilmu yang kedua kali setelah tujuh bulan sebrlumnya pernah di mekkah. Jasa beliau - Pendiri pondok tebu ireng jombang - Penentang saikere - Ketua shumubu - Berfatwa: (-) perang melawan belanda adalah jihad dan fardlu ain, (-) melarang orang islam haji dengan kapal belanda - Menulis banyak karya, diantranya yang terkenal : risalah ahlussunah wal jamaah

Belajar online menyenangkan...

Saya baru saja mengikuti pelajaran berdurasi 5 menit di Primer. Lihat di ponselmu: https://www.yourprimer.com/app/id/lesson/bigidea/

Amalan dan niat

PESAN INDAH MBAH MAIMUN

K.H Maimun Zubair Dawuh,,,,

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air,
Maka angkat dan tolonglah...
Barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin,
Maka singkirkanlah,
Barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya,
Maka ambil dan susulkan ia dengan induknya,
Semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan,
Maka antarkanlah ia...
Barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama,
Maka ajarkanlah alif ba' ta' kepada anak2 mu,
Setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..
Yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan sama sekali,

Maka tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti sesama makhluk hidup.....
Setidaknya itu akan menjadi sedekah untuk dirimu.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya.

Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya.

Jangan pernah meremehkan kebaikan,
Bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya,
Bukan karena panjang shalat malamnya.
Tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda.

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum".(HR. Muslim)

Mari kita selalu berusaha dg Pikiran dan prilaku positif,

Semangat meraih hasil terbaik serta saling mendoakan akan keberkahan.. Aamiin ����

Senin, 02 April 2018

Kain kafan dan seorang wanita

Kisah Seorang Wanita Yang Malu Dari Kain Kafan

Ketika sayyidah Fathimah radhiyallahu anha sedang sakit diambang kematian, maka Asma bintu Umais radhiyallahu anha datang berkunjung untuk menjenguknya.

Maka Fathimah berkata kepada Asma:

“Wahai Asma, aku begitu malu ketika harus keluar di esok hari di hadapan para lelaki (ketika aku telah meningal)  dan tubuhku dibawa diatas peti mati”.

Peti mati ketika itu, hanyalah sebuah kayu datar yang terbuka. Dan Tubuh mayyit yang sudah tertutup oleh kain kafan akan diletakkan diatasnya dan ditutup lagi dengan sebuah kain sebagai tambahan.

Fathimah radhiyallahu anha sangat malu dan sedih ketika tubuhnya akan terbentuk oleh kain kafan, dia tidak ingin ada seorang lelaki dapat melihat bentuk dan lekuk tubuhnya. Maka dengarkanlah kembali isi curhatan Fathimah yang sungguh mendalam:

إِنِّي قَدِ اسْتَقْبَحْتُ مَا يُصْنَعُ بِالنِّسَاءِ أَنْ يُطْرَحَ عَلَى الْمَرْأَةِ الثَّوْبُ فَيَصِفُهَا

“Sesungguhnya aku merasa malu dengan apa yang terjadi untuk para wanita ketika mereka dipakaikan sebuah kain kafan, maka kafan itu membentuk tubuhnya”

Mendengarkan curhan hati dari Fathimah radhiyallahu anha, maka Asma bintu Umais berkata untuknya:

يَا ابْنَةَ رَسُولِ اللهِ أَلَا أُرِيكِ شَيْئًا رَأَيْتُهُ بِالْحَبَشَةِ

“Wahai putri Rasulullah, maukah aku kabarkan kepadamu sebuah peti mati yang aku lihat di Habasyah?”

Maka Asma membuat peti mati yang tertutup dari semua sisinya seperti sebuah kardus. Ketika peti mati sudah jadi, Asma kemudian menutup peti mati itu kembali dengan sebuah kain yang luas maka tubuh mayyit yang dibawa diatasnya tidak akan mungkin terbentuk atau tersifati.

Melihat perbuatan Asma, Fathimah begitu bahagia. Seketika, Fathimah berkata kepada Asma:

سترك الله كما سترتني مَا أَحْسَنَ هَذَا وَأَجْمَلَهُ تُعْرَفُ بِهِ الْمَرْأَةُ مِنَ الرَّجُلِ فَإِذَا مِتُّ أَنَا فَاغْسِلِينِي أَنْتِ وَعَلِيٌّ

“Semoga Allah menutup auratmu sebagaimana engkau telah berusaha untuk menutup auratku. Betapa indahnya buatanmu ini, sehingga wanita yang meninggal bisa dibedakan dengan lelaki yang meninggal. Jika aku mati, maka mandikanlah diriku bersama Ali” (HR. Abu Nu’aim Al-Asbahani pada Hilyah Al-Aulia 2/43)

Subhanallah, dia malu padahal nantinya hanyalah seorang yang sudah wafat dan itupun sudah benar-benar tertutup dan terbungkus dengan 5 kain kafan !! Apalagi yang akan terlihat ?

Fathimah tidaklah mencurahkan isi hatinya ketika di pasar atau sebuah taman, namun sayyidah Fatimah mencurahkan isi hatinya ketika beliau diambang kematian.

Sayyidah Fathimah malu ketika beliau sudah wafat, maka bagaimana dengan wanita yang masih hidup tidak memiliki rasa malu ?

Seandainya Fathimah melewati sebuah pasar yang ada di zaman kita sekarang ini, dan beliau melihat para wanita yang rasa malunya telah mati. Maka apa yang akan beliau katakan ? Wanita saat ini, sudah mati rasa malunya sehingga mereka berani untuk melepaskan hijabnya bahkan menggunakan pakaian sempit lagi minim. Wanita saat ini, sudah hilang rasa malunya sehingga mereka berani untuk memperindah dan memberikan parfum pada dirinya.

Maka beliau hanyalah akan menangis ketika melihat rasa malu dari wanita muslimah saat ini telah hilang dan mati.

Apa yang membuat sayyidah Fathimah radhiyallahu anha sampai pada keududukan yang tinggi seperti ini? Hal tersebut, karena sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang ada pada diri Fathimah radhiyallahu anha:

الحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan” (HR. Bukhari)

Maka tangisilah diri kita, ketika kita tidak menangis melihat tingginya rasa malu sayyidah Fatimah Az-Zahra radhiyallahu anha.

Semoga Allah selalu menutup Aurat kita, ayah dan ibu kita, saudara dan saudari kita, putra dan putri kita dan seluruh keluarga dan kerabat kita, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di dunia maupun akhirat.

Amiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Senin, 19 Maret 2018

Bussines on

Saya baru saja mengikuti pelajaran berdurasi 5 menit di Primer. Lihat di ponselmu: https://www.yourprimer.com/app/id/lesson/domainhost/

Minggu, 04 Maret 2018

Belajar online menyenangkan...

Saya baru saja mengikuti pelajaran berdurasi 5 menit di Primer. Lihat di ponselmu: https://www.yourprimer.com/app/id/lesson/bigidea/

Kamis, 15 Februari 2018

Maafkanlah....


Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatan
gan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

_*”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab : _*Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.*_

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
_*”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.*_

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar ... ������

Beginilah layaknya contoh umat islam yg sebenarnya, bukan malah saling menghujat satu sama lainnya...

begitulah Islam yang sebenarnya dan sampaikan kepada mereka
Agar Umat Islam INDONESIA istiqamah..

Rabu, 14 Februari 2018

COPAaSss menarik dan smoga banyak yang tertarik...

Persatuan Menumbuhkan Kekuatan

Semoga menjadi pemicu kita bergerak, bekerja, berusaha ��

http://bisnis.liputan6.com/read/645663/perusahaan-china-malaysia-bangun-sawah-rp-20-triliun-di-indonesia

Bangsa kita ini seringkali merasa kerdil karena memang sengaja diadudomba, devide et impera, hanya mengurusi hal2 tidak penting, agar kita abai pada hal yg penting yang kelak akan jadi rebutan yaitu Air, Pangan, dan Energi, segitiga kehidupan menurut Prof. E. Gumbira Said Almarhum, beliau Guru Pembimbing Mamang di MMA IPB, Alfatihah utk beliau��.

NKRI menjadi besar karena 200an kerajaan dan kesultanan nusantara bersatu dalam satu #PanjiHitam #PanjiPelebur karena hitam adalah simbol warna pelebur, semua warna bersatu dalam warna hitam dan PanjiHitam-nya Indonesia adalah yaitu Merah Putih, Semua Sepakat Mengobarkan Semangat Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika. Maka ketika kecil Belanda dengan mudahnya mengadu domba, sehingga negara habis dijajah. Ketika besar bermodal bambu runcing dan senjata bekas saja mampu memukul mundur Sekutu dan Belanda.

Ada istilah kalau 10 bule berkumpul maka akan menghasilkan 1 karya besar, sedangkan 10 orang Indonesia berkumpul maka akan menghasilkan 10 karya kecil. Masing2 berdiri sendiri tidak mau bersinergi, berkolaborasi, maunya saling bersaing/ berkompetisi tidak mau saling bermitra membangun sesuatu bersama, padahal jelas Wangsit Karuhun mah "Sabilulungan dasar Gotong Royong, Sabilulungan Persatuan Tembong", kebersamaan, kerakyatan, keadilan, didorong oleh kesatuan, kemanusiaan, dan Ketuhanan.

Contoh lagi kebetulan Mamang lagi berinteraksi dgn BRI yang mulanya dari kas mesjid sekarang menjadi Bank terbesar ke-5 dgn aset 400an trilyun seasia tenggara tapi sedihnya masih dibawah BCA 500an trilyun asetnya, coba banyangkan BRI asetnya milik negara masih lebih kecil dari BCA yg milik perorangan / korporasi individu. Coba kalau semua Bank BUMN Indonesia ini bersatu tidak ada yang bisa mengalahkan BRI, BNI, dan Mandiri bersatu akan menjadi Bank No 1 di Asia Tenggara mengalahkan Aset DBS yang nilainya 700an trilyun, bahkan tidak hanya di Asia Tenggara tapi berkibar di Asia bahkan dunia. Mengapa tidak bisa bergabung, berkolaborasi dalam satu Panji Merah Putih dan Bank yang paling pas menjadi Holdingnya adalah BRI karena Nama Bank Rakyat Indonesia merepresentasikan Citra sebagai Bank Milik dan Kebanggaan Rakyat Indonesia.

Ini butuh kebijakan Strategis dari Kementrian BUMN Bu Rini semoga disadarkan dan juga Jokowi untuk menyatukan semua dan membesarkan Indonesia, agar jangan rakyat dan bangsa kita ini menjadi merasa kerdil. Dengan Marigi/ Bersatunya seluruh elemen bangsa terbukti bahwa bangsa kita ini besar, Belanda aja yang mana VOC adalah perusahaan paling tajir dgn aset 7.9 Triliun USD sampai saat ini belum ada perusahaan yg bisa menyainginya tidak juga Saudi Aramco, apalagi Microsoft dan Apel, belum mampu melebihi kekayaan VOC yg kekayaannya diperoleh dari menjajah kerajaan dan kesultanan di Nusantara yg sekarang menjadi Indonesia.

Begitu besar sekali potensi kekayaan Indonesia dan kita akan mampu mengembangkannya menjadi bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia, apabila seluruh elemen bangsa bersatu menjalankan Darma Baktinya kepada Nusa dan Bangsa, sebaik2nya manusia adalah yang memberikan manfaat positif pada orang lain, lingkungan sekitar, bahkan masyarakat luas.

Sesuai Uga Jatigede Jatidiri Bangsa, "Cimanuk Marigi Deui", Mamang hanya bisa mendoakan semoga CiManuk/ Cahaya Burung Garuda Pancasila bisa mempersatukan / marigi lagi/ deui. Ayoooo sadarlah seluruh elemen bangsa bersatulah, berhenti bertikai, mulailah bersinergi, berkolaborasi, membangun kemitraan strategis, dari kita, oleh kita, untuk semua. Amiin yra.

Mang Asep Kabayan
Kabuyutan Cipaku Jatigede
www.kampungbuhun.com

Senin, 05 Februari 2018

Sudahkan kita menuntut ilmu agama?????

WAFATNYA ULAMA ADALAH BENCANA SEMESTA ALAM
Oleh : KH. Muhammad Alkhathath

Dalam kitab Tanqih al-Qaul, al-Imam al-Hafidz Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات
“Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik.”

Menangislah, karena meninggalnya seorang ulama adalah sebuah perkara yang besar di sisi Allah. Sebuah perkara yang akan mendatangkan konsekuensi bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantisa mendengar petuah mereka. Menangislah, jika kita ternyata selama ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama.

عن ابن عباس ، في قوله تعالى : أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا سورة الرعد آية 41 قال : موت علمائها . وللبيهقي من حديث معروف بن خربوذ ، عن أبي جعفر ، أنه قال : موت عالم أحب إلى إبليس من موت سبعين عابدا .
Ibnu Abbas Ra. berkata tentang firman Allah: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. ar-Ra’d ayat 41). Beliau mengatakan tentang (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya para ulama.”

Dan menurut Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far Ra. berkata: “Kematian ulama lebih dicintai Iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”

Al-Quran secara implisit mengisyaratkan wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab kehancuran dunia, yaitu firman Allah Swt. yang berbunyi:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. ar-Ra’d ayat 41).

Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya). Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama. (Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 472).

Rasulullah Saw. yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah Saw. bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ
“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.” (HR. ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda).

Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu

Umat manusia dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.:

خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ
“Ambillah (pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi.” Sahabat bertanya: “Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah Saw. menjawab: “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama).” (HR. ad-Darimi, ath-Thabarani no. 7831 dari Abu Umamah).

Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, diantaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehinga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambaNya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100).

Kendatipun telah banyak kyai atau ulama yang telah wafat, dan wafatnya kyai atau ulama adalah sebuah musibah dalam agama, maka harapan kita adalah lahirnya kembali ulama yang meneruskan perjuangannya. Aamiin

Harapan ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra.:

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه
“Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya.” (Ihya ‘Ulumiddin juz 1 halaman 15).

Wallahu a’lam bi ash-Shawab.